Copy Paste

April 2, 2009

Pertengkaran Khas Pengantin Baru

Filed under: Pernikahan — copaste @ 1:50 am

Banyak pasangan yang merasa “dihempaskan” kembali ke dunia nyata setelah bulan madu berlalu. Dunia yang tidak seindah yang Anda bayangkan saat memasuki gerbang perkawinan. Suami tak mau mendengarkan keluhan Anda. Anda merasa tidak bebas jalan-jalan ke mal lagi sepulang dari kantor. Ibu mertua Anda selalu ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga.

Wah, ini hal-hal klise yang selalu dibicarakan orang. Ternyata Anda pun harus mengalaminya. Anda bahkan tak menyangka bahwa ada tanggung jawab lainnya yang terasa membatasi ruang gerak Anda.

Bila ini terjadi, ambillah napas dalam-dalam dan anggaplah bahwa Anda sedang memasuki sebuah sekolah baru. Sadarilah bahwa pernikahan bukanlah sesuatu yang mudah untuk dipelajari. Anda butuh waktu, latihan, kerja keras, dan sedikit nasihat dari sana-sini untuk menguasainya. Dan bila Anda berharap beberapa hal klise di atas tidak akan berkembang menjadi masalah baru, segera siapkan mental Anda. Inilah beberapa pertengkaran yang mungkin terjadi pada pasangan pengantin baru, dan bagaimana mengatasinya bersama.

“Kamu enggak pernah cuci kaki saat naik ke tempat tidur!”
Bertengkar adalah cara yang sehat untuk mengekspresikan diri Anda, khususnya bila hal tersebut menyangkut sesuatu yang mengganggu Anda. Namun, penting untuk diketahui apa yang Anda pertengkarkan. Perdebatan konyol yang menyebabkan kekesalan seperti kebiasaan kecil masing-masing pasangan, tak perlu dipelihara. Sebaiknya Anda tidak menyebutkan setiap hal kecil yang mengganggu pikiran Anda. Putuskan, topik apa yang cukup penting untuk dibicarakan sebelum Anda membawanya ke meja dialog Anda. Namun, bila urusan mencuci kaki atau mematikan lampu merupakan hal penting bagi Anda, Anda pun harus siap mendengarkan apa keluhan Si Dia tentang kebiasaan Anda.

“Ssst… Aku lagi nonton TV!”
Salah satu problem terbesar yang dihadapi pengantin baru adalah kurangnya komunikasi. Kadang-kadang Anda merasa sulit menyampaikan pada pasangan apa yang mengganggu Anda, dan menakutkan rasanya bertanya, “Apa yang salah?” Namun, mengabaikan masalah juga tak akan membuatnya lenyap. Sebelum membicarakannya, kenali apa yang sebenarnya mengganggu Anda. Setelah itu, jika Anda berpikir bahwa masalah itu 100 persennya merupakan kesalahan suami, maka kemungkinan Anda belum jujur 100 persen dengan diri Anda. Kebanyakan problem disebabkan oleh kedua belah pihak, dan harus diatasi juga oleh Anda dan pasangan.

“Itu bukan cara yang biasa aku lakukan.”
Saat masih pacaran, Anda mungkin melihat pasangan Anda begitu sempurna—seseorang yang harus diubah atau ditaklukkan. Begitu Anda menikah, penting untuk mengingat bahwa meskipun Anda merupakan satu tim, Anda dan pasangan juga merupakan individu yang membawa sifat dan kebiasaan masing-masing. Tujuan Anda menikahinya seharusnya bukan untuk mengubahnya menjadi lebih baik (menurut versi Anda), namun untuk menjadikan diri masing-masing lebih baik. Hal itu bisa dimulai dengan menghargai opini satu sama lain.

“Ke mana saja kamu tadi malam?”
Anda boleh saja tinggal bersama, tidur seranjang, bahkan memakai nama suami. Namun Anda tetap perlu memberi ruang bagi diri masing-masing. Setelah menikah, perilaku yang sudah mengakar pada diri Anda dan Si Dia tak bisa begitu saja dihentikan, dan mencoba menyita kebebasan Anda maupun suami adalah hal yang tidak masuk akal. Jika salah satu dari Anda ingin jalan-jalan dengan teman pada Jumat malam, mintalah izin sehari sebelumnya meskipun tahu suami pasti akan mengizinkan. Dan, pulanglah pada jam yang sudah Anda janjikan. Kurangnya komunikasi dan kepercayaanlah yang biasanya menimbulkan rasa tidak aman, kecemburuan, atau rasa bersalah sepanjang waktu.

“Yang itu lebih baik disingkirkan saja.”
Hidup serumah dengan orang lain akan membutuhkan penyesuaian diri, tak peduli betapa dekatnya hubungan Anda dengan suami sebelum menikah. Bagaimana pun juga, Anda pasti memiliki konsep dan ide yang berbeda mengenai berbagai hal, dari penataan rumah hingga masalah kebersihan. Anda suka membeli pernak-pernik lucu dan memajangnya di segala penjuru rumah, sedangkan suami gerah melihat barang-barang “imut” tersebut dan ingin menggantinya dengan koleksi otomotifnya. Perbedaan keinginan tersebut mengindikasikan sesuatu: identitas Anda. Tak seorang pun dari Anda berdua ingin kehilangan identitas. Jadi, daripada membuang benda masing-masing, pikirkan bagaimana agar Anda berdua tetap merasa at home. Boleh percaya boleh tidak, simbol-simbol dari masa lalu akan menjadi kurang penting bagi Anda seiring berjalannya waktu.

“Tagihan kartu kreditmu kok melonjak lagi?”
Dulu Anda biasa berbelanja apa pun yang Anda inginkan, kapan pun Anda mau. Sekarang kemewahan tersebut tidak lagi Anda peroleh. Apa yang dianggap penting bagi Anda, mungkin dinilai pemborosan oleh suami. Itulah sebabnya mengapa Anda harus mendiskusikan dulu bagaimana membelanjakan sisa gaji setelah memenuhi kebutuhan rumah tangga. Sisihkan sebagian untuk pendidikan, kesehatan, dan bahkan untuk liburan. Setelah itu, bila masih ada sisa, Anda baru bisa mengalokasikannya untuk kesenangan pribadi.

“Tuh, ibumu nelepon lagi.”
Barangkali bukan cuma ibu mertua yang ingin terlibat dalam rumah tangga Anda, tetapi juga ibu Anda sendiri. Hal ini juga akan membawa masalah, karena hubungan Anda dengan orangtua Anda sendiri mungkin juga kurang harmonis. Ingatlah bahwa ketika Anda menikahi pasangan Anda, Anda juga menikah dengan seluruh keluarganya. Terimalah tanggung jawab dan kewajiban tersebut, dan jangan menentangnya. Kuncinya adalah saling membicarakan apa yang Anda harapkan dari mertua atau ipar Anda, dan sampaikan apa yang dapat Anda toleransikan. Setelah itu, tingkatkan kadar toleransi Anda hingga 10 persen. Begitu batasan-batasan tersebut ditentukan, Anda akan dapat menjalani rumah tangga ini tanpa mulai berargumen begitu “gangguan” tersebut muncul.

source : kompas.com

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: