Copy Paste

April 14, 2009

Daftar KUA DKI Jakarta

Filed under: Pernikahan — copaste @ 2:04 am

A. Jakarta Pusat

1. KUA Kec.Menteng Jl.Pegangsaan Barat No.14 Menteng Telp. 331817
2. KUA Kec.Senen Jl.Kalibaru IV Gg.II No.36 Telp. 4258264
3. KUA Kec.Gambir Jl.Pembangun 11 Taman Petojo Utara Telp. 6338623
4. KUA Kec.Cempaka Putih Jl.Cmpk Putih Tengah XIII/10 Telp. 4258244
5. KUA Kec.Kemayoran Jl.Serdang No.3 Kemayoran Telp. 4259950
6. KUA Kec.Sawah Besar Jl.Mangga Dua Dalam No.10 Telp. 6016889
7. KUA Kec.Tanah Abang Jl.Mutiara No.2 Karet Tengsin Telp. 5743823
8. KUA Kec.Johar Baru Jl.Tanah Tinggi IV / 86B Telp. 4257980

B. Jakarta Utara

1. KUA Kec.Koja Jl.Mangga No.24 Kel.Lagoa Telp. 495422
2. KUA Kec.Cilincing Jl.Sungai Landak No.7 Cilincing Telp. 4407990
3. KUA Kec.Penjaringan Jl.Pluit Raya No.15 Penjaringan Telp. 6601505
4. KUA Kec.Pademangan Jl.Mulia Raya Telp. 6402649
5. KUA Kec.Tanjung Priok Jl.Yos Sudarso No.22 Telp. 43935765
6. KUA Kec.Kelapa Gading Jl.Tm Griya Pratama Blok MA Telp. 45841307

C. Jakarta Barat

1. KUA Kec.Tambora Jl.Masjid Pekayon IV/46 Tambora Telp. 6913395
2. KUA Kec.Kebon Jeruk Jl.Raya Duri Kepa Telp. 5640052
3. KUA Kec.Grogol Jl.Hadiah IV/10 Kel.Jelambar Telp. 56963774
4. KUA Kec.Taman Sari Jl.Kemukus No.2 Kel.Pinangsia Telp. 6910757
5. KUA Kec.Palmerah Jl.Melati Putih No.2 Kel.Kemanggisan Telp. 5329895
6. KUA Kec.Kalideres Jl.Peta Utara No.2 Kel.Pegadungan Telp. 5450773
7. KUA Kec.Cengkareng Jl.Utama Raya Pasar Ganefo Telp. 5406246
8. KUA Kec.Kembangan Jl.Kembangan Utara Telp. 5821769

D. Jakarta Selatan

1. KUA Kec.Kebayoran Baru Jl.Kerinci No.20 Keb.Baru Telp.7393335
2. KUA Kec.Kebayoran Lama Jl.H.Saiman Buntu Pd.Pinang Telp.75909442
3. KUA Kec.Setia Budi Jl.Setia Budi Barat VII / 8K Telp. 5261876
4. KUA Kec.Mampang Jl.Kemang Timur 1/3 Telp. 7901913
5. KUA Kec.Tebet Jl.Tebet Barat Dalam 11 Telp. 8297707
6. KUA Kec.Cilandak Jl.Muhasyim VII/90 Cilandak Barat Telp. 7658558
7. KUA Kec.Pasar Minggu Jl.Jati Padang Raya No.52 Telp. 7822819
8. KUA Kec.Pancoran Jl.Rawajati Barat V Kel.Rawajati Telp. 7948428
9. KUA Kec.Pesanggrahan Jl.Beo No.19 Kel. Pesanggrahan Telp. 7365966
10. KUA Kec.Jagakarsa Jl.Sirsak No.97 Kel.Jagakarsa Telp. 7865026

E. Jakarta Timur

1. KUA Kec.Matraman Jl.Balai Rakyat Utan Kayu Matraman Telp. 8577053
2. KUA Kec.Jatinegara Jl.I Gusti Ngurah Rai Cip.Muara Telp. 8577966
3. KUA Kec.Pulo Gadung Jl.Balai Pustaka Rawamangun Telp. 4700994
4. KUA Kec.Kramat Jati Jl.Dukuh III No.3 Kramat Jati Telp. 87793173
5. KUA Kec.Pasar Rebo Jl.Makasar No.42 Kel.Pekayon Telp. 8707848
6. KUA Kec.Duren Sawit Jl. P.Revolusi No.47 Pd.Bambu Telp. 8602573
7. KUA Kec.Ciracas Jl.Penganten Ali Gg.AMD Kel.Ciracas Telp. 8413485
8. KUA Kec.Makasar Jl.Kerja Bhakti Gg.Abd.Gani Telp. 8003157
9. KUA Kec.Cipayung Jl.Bina Marga No.3 Telp. 8446808
10. KUA Kec.Cakung Jl.Kayu Tinggi Cakung Telp. 4611235

sumber : bimasislam.depag.go.id

Advertisements

April 3, 2009

Tips Memesan Menu Katering

Filed under: Pernikahan — copaste @ 7:45 am

Bagi banyak orang, kelezatan menu saat resepsi pernikahan adalah bagian yang akan selalu diingat para tamu. Karena itu, Anda harus pintar-pintar memilih menu untuk hidangan resepsi pernikahan Anda.

Memilih menu makanan sendiri sebenarnya dapat dibedakan menurut konsep pernikahan itu sendiri. Menu untuk konsep sit-down dinner tentu berbeda dengan menu buffet. Menu kambing guling, misalnya, tampaknya tak akan dihadirkan pada konsep sit-down dinner. Sangat tidak elegan bukan, jika tamu-tamu Anda sibuk mengorek daging yang terselip di antara gigi?

Namun pada intinya, pilihlah menu yang disukai orang pada umumnya. Di bawah ini ada beberapa patokan saat memilih dan menentukan jumlah porsinya:

1. Saat ini orang cenderung tidak lagi ingin makan berlebihan, dan selain itu Anda tidak perlu menghitung porsi makanan sesuai jumlah undangan. Misalnya, jumlah undangan 500 orang, ditambah pasangannya menjadi 1.000 orang, tidak berarti Anda harus memesan 1.000 porsi nasi putih. Ingat, dari 500 orang itu tidak semuanya akan hadir, dan setiap orang tidak akan mengambil nasi di piring sebanyak ketika makan di rumah. Karena itu Anda bisa mengurangi porsi nasi dan menu lauk-pauknya. Anda bisa mengalihkan jumlah porsi menu buffet ini ke menu “gubuk”, seperti kambing guling, pastry soup, soto mie, dan lain sebagainya.

2. Kebalikan dari nomor 1, jangan memesan makanan terlalu sedikit karena Anda takut makanan akan banyak bersisa. Tamu atau keluarga yang kehabisan makanan saat menghadiri resepsi pernikahan biasanya akan terus membicarakan “cacat” tersebut sampai Anda pulang dari bulan madu. Untuk mengira-ira porsi yang Anda pesan, Anda bisa mengkonfirmasi kehadiran keluarga yang Anda undang jauh-jauh hari.

3. Banyak orang yang lebih menyukai makanan yang tidak merepotkan saat dimakan, atau yang tidak merusak lipstik, sehingga Anda bisa memperbanyak menu-menu seperti dimsum, makaroni skotel, pastel tutup, tempe mendoan, atau sate ayam. Hindari menu seperti ikan goreng asam-manis meskipun rasanya lezat, karena tamu akan repot menyisihkan duri dari dagingnya. Berapa banyak gubuk atau booth yang ingin Anda hadirkan di gedung perkawinan, tentu harus disesuaikan dengan budget Anda.

4. Anak kecil umumnya menyukai makanan seperti mie goreng, bakso, juga puding, kue-kue manis seperti cupcakes, dan es krim. Karena itu jangan melupakan menu-menu ini di dalam daftar pesanan Anda.

5. Jika Anda memiliki menu favorit, atau makanan yang disukai komunitas Anda, kini banyak restoran atau kafe yang menyediakan layanan untuk pesta pernikahan. Contohnya, Sushi Groove, Doner Kebab, Cwie Mie Malang, Wendy’s, d’crepes, juga J.Co Donuts, Es Teler 77, Dapur Cokelat, atau Baskin & Robbins. Perlu diingat, restoran atau kafe seperti ini umumnya menetapkan minimum order, dan harga yang lebih mahal daripada harga biasa. Sebab porsi menu tersebut kadang-kadang juga lebih banyak, lalu Anda juga akan dikenakan biaya transportasi. Bila memungkinkan, diskusikan dengan pihak kafe agar Anda mendapatkan jalan tengah untuk harga yang sesuai kantong Anda.

Tips saat memesan menu:

1. Pihak katering biasanya mengadakan acara test food agar Anda dapat mencoba lebih dahulu menu yang ingin Anda pesan. Jangan sia-siakan kesempatan ini.

2. Lebih baik berjaga-jaga agar Anda tak kerepotan bila makanan banyak bersisa. Misalnya, belilah kantong plastik, kotak plastik, dan kantong kresek, untuk memberi kesempatan keluarga atau kerabat membawa pulang makanan tersebut.

3. Mintalah pihak katering atau venue untuk menyediakan meja khusus untuk piring kotor, juga tempat sampah yang layak agar tamu mudah membuang “aksesori” pada makanan seperti tusuk sate, cup es krim, dan lain sebagainya.

April 2, 2009

Pertengkaran Khas Pengantin Baru

Filed under: Pernikahan — copaste @ 1:50 am

Banyak pasangan yang merasa “dihempaskan” kembali ke dunia nyata setelah bulan madu berlalu. Dunia yang tidak seindah yang Anda bayangkan saat memasuki gerbang perkawinan. Suami tak mau mendengarkan keluhan Anda. Anda merasa tidak bebas jalan-jalan ke mal lagi sepulang dari kantor. Ibu mertua Anda selalu ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga.

Wah, ini hal-hal klise yang selalu dibicarakan orang. Ternyata Anda pun harus mengalaminya. Anda bahkan tak menyangka bahwa ada tanggung jawab lainnya yang terasa membatasi ruang gerak Anda.

Bila ini terjadi, ambillah napas dalam-dalam dan anggaplah bahwa Anda sedang memasuki sebuah sekolah baru. Sadarilah bahwa pernikahan bukanlah sesuatu yang mudah untuk dipelajari. Anda butuh waktu, latihan, kerja keras, dan sedikit nasihat dari sana-sini untuk menguasainya. Dan bila Anda berharap beberapa hal klise di atas tidak akan berkembang menjadi masalah baru, segera siapkan mental Anda. Inilah beberapa pertengkaran yang mungkin terjadi pada pasangan pengantin baru, dan bagaimana mengatasinya bersama.

“Kamu enggak pernah cuci kaki saat naik ke tempat tidur!”
Bertengkar adalah cara yang sehat untuk mengekspresikan diri Anda, khususnya bila hal tersebut menyangkut sesuatu yang mengganggu Anda. Namun, penting untuk diketahui apa yang Anda pertengkarkan. Perdebatan konyol yang menyebabkan kekesalan seperti kebiasaan kecil masing-masing pasangan, tak perlu dipelihara. Sebaiknya Anda tidak menyebutkan setiap hal kecil yang mengganggu pikiran Anda. Putuskan, topik apa yang cukup penting untuk dibicarakan sebelum Anda membawanya ke meja dialog Anda. Namun, bila urusan mencuci kaki atau mematikan lampu merupakan hal penting bagi Anda, Anda pun harus siap mendengarkan apa keluhan Si Dia tentang kebiasaan Anda.

“Ssst… Aku lagi nonton TV!”
Salah satu problem terbesar yang dihadapi pengantin baru adalah kurangnya komunikasi. Kadang-kadang Anda merasa sulit menyampaikan pada pasangan apa yang mengganggu Anda, dan menakutkan rasanya bertanya, “Apa yang salah?” Namun, mengabaikan masalah juga tak akan membuatnya lenyap. Sebelum membicarakannya, kenali apa yang sebenarnya mengganggu Anda. Setelah itu, jika Anda berpikir bahwa masalah itu 100 persennya merupakan kesalahan suami, maka kemungkinan Anda belum jujur 100 persen dengan diri Anda. Kebanyakan problem disebabkan oleh kedua belah pihak, dan harus diatasi juga oleh Anda dan pasangan.

“Itu bukan cara yang biasa aku lakukan.”
Saat masih pacaran, Anda mungkin melihat pasangan Anda begitu sempurna—seseorang yang harus diubah atau ditaklukkan. Begitu Anda menikah, penting untuk mengingat bahwa meskipun Anda merupakan satu tim, Anda dan pasangan juga merupakan individu yang membawa sifat dan kebiasaan masing-masing. Tujuan Anda menikahinya seharusnya bukan untuk mengubahnya menjadi lebih baik (menurut versi Anda), namun untuk menjadikan diri masing-masing lebih baik. Hal itu bisa dimulai dengan menghargai opini satu sama lain.

“Ke mana saja kamu tadi malam?”
Anda boleh saja tinggal bersama, tidur seranjang, bahkan memakai nama suami. Namun Anda tetap perlu memberi ruang bagi diri masing-masing. Setelah menikah, perilaku yang sudah mengakar pada diri Anda dan Si Dia tak bisa begitu saja dihentikan, dan mencoba menyita kebebasan Anda maupun suami adalah hal yang tidak masuk akal. Jika salah satu dari Anda ingin jalan-jalan dengan teman pada Jumat malam, mintalah izin sehari sebelumnya meskipun tahu suami pasti akan mengizinkan. Dan, pulanglah pada jam yang sudah Anda janjikan. Kurangnya komunikasi dan kepercayaanlah yang biasanya menimbulkan rasa tidak aman, kecemburuan, atau rasa bersalah sepanjang waktu.

“Yang itu lebih baik disingkirkan saja.”
Hidup serumah dengan orang lain akan membutuhkan penyesuaian diri, tak peduli betapa dekatnya hubungan Anda dengan suami sebelum menikah. Bagaimana pun juga, Anda pasti memiliki konsep dan ide yang berbeda mengenai berbagai hal, dari penataan rumah hingga masalah kebersihan. Anda suka membeli pernak-pernik lucu dan memajangnya di segala penjuru rumah, sedangkan suami gerah melihat barang-barang “imut” tersebut dan ingin menggantinya dengan koleksi otomotifnya. Perbedaan keinginan tersebut mengindikasikan sesuatu: identitas Anda. Tak seorang pun dari Anda berdua ingin kehilangan identitas. Jadi, daripada membuang benda masing-masing, pikirkan bagaimana agar Anda berdua tetap merasa at home. Boleh percaya boleh tidak, simbol-simbol dari masa lalu akan menjadi kurang penting bagi Anda seiring berjalannya waktu.

“Tagihan kartu kreditmu kok melonjak lagi?”
Dulu Anda biasa berbelanja apa pun yang Anda inginkan, kapan pun Anda mau. Sekarang kemewahan tersebut tidak lagi Anda peroleh. Apa yang dianggap penting bagi Anda, mungkin dinilai pemborosan oleh suami. Itulah sebabnya mengapa Anda harus mendiskusikan dulu bagaimana membelanjakan sisa gaji setelah memenuhi kebutuhan rumah tangga. Sisihkan sebagian untuk pendidikan, kesehatan, dan bahkan untuk liburan. Setelah itu, bila masih ada sisa, Anda baru bisa mengalokasikannya untuk kesenangan pribadi.

“Tuh, ibumu nelepon lagi.”
Barangkali bukan cuma ibu mertua yang ingin terlibat dalam rumah tangga Anda, tetapi juga ibu Anda sendiri. Hal ini juga akan membawa masalah, karena hubungan Anda dengan orangtua Anda sendiri mungkin juga kurang harmonis. Ingatlah bahwa ketika Anda menikahi pasangan Anda, Anda juga menikah dengan seluruh keluarganya. Terimalah tanggung jawab dan kewajiban tersebut, dan jangan menentangnya. Kuncinya adalah saling membicarakan apa yang Anda harapkan dari mertua atau ipar Anda, dan sampaikan apa yang dapat Anda toleransikan. Setelah itu, tingkatkan kadar toleransi Anda hingga 10 persen. Begitu batasan-batasan tersebut ditentukan, Anda akan dapat menjalani rumah tangga ini tanpa mulai berargumen begitu “gangguan” tersebut muncul.

source : kompas.com

Blog at WordPress.com.